astakom.com, Liputan Khusus– Pagi itu awan Jakarta terlihat seperti sendu. Langitnya agak mendung, namun hujan belum tampak turun. 10 November 2025, aktivitas pagi komplek Istana Negara di Jl. Veteran Medan Merdeka, Jakarta Pusat terlihat agak berbeda.
Nuansa balutan dan kibaran bendera Merah Putih di beberapa sudutnya tampak dirapikan ulang oleh petugas Istana. Hari itu, mereka akan menyambut keluarga Pahlawan Nasional. Sejak beberapa hari sebelumnya memang santer beredar kabar Presiden Prabowo Subianto beserta pejabat terkait akan mengumumkan penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada beberapa tokoh.
Pukul 10.00 lebih, hujan rintik- rintik mulai turun. Bersamaan dengan nya, tampak satu- persatu anak, cucu, kakak dan perwakilan keluarga Pahlawan Nasional sudah mulai berdatangan di Istana Negara. Terlihat ada Marsini, Kakak kandung aktivis Buruh alm. Marsinah. Alm. Presiden Soeharto tampak diwakili putranya Bambang Trihatmodjo dan putri sulungnya Siti Hardijanti Rukmana. Nona Wahid bersaudara, Yenny Wahid dan Alissa Wahid juga tampak ‘mewakili’ sang Ayah Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Tidak ketinggalan cicit Syaichona Cholil, masing- masing KH Imron Amin dan KH Dimyathi Muhammad ikut hadir mewakili sang Uyut, Syaikhona Kholil. Hingga Fauzia Fawziah Muhammadin hadir mewakili Rahmah El Yunusiyah yang akan juga akan menyandang gelar Pahlawan Nasional sebagai Tokoh Perempuan pendiri Diniyah Putri Padang Panjang Sumatera Barat
Memasuki waktu siang, Istana Negara memulai seremonial Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional. Dengan langkah tegap, Presiden Prabowo Subianto memasuki ruang VVIP Istana, tempat prosesi penyematan Gelar Pahlawan Nasional akan diberikan.
Prabowo Subianto mendekat ke podium, sejenak Ia tampak memandang kagum dan hormat kepada para keluarga Pahlawan yang menyempatkan hadir memenuhi undangan negara. Salam pembuka pun haturkan untuk mereka.
“Sejenak mengenang arwah dan jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan kedaulatan dan kehormatan bangsa Indonesia yang telah memberi segala-galanya agar kita bisa hidup merdeka dan kita bisa hidup dalam alam yang sejahtera, mengheningkan cipta mulai,” Ucap Presiden saat memimpin penyematan gelar Pahlawan Nasional siang itu.
***
Fakta Bijak, Jangan Hilang Jejak karena Kontroversi
3 Hari berlalu sejak 10 November 2025. Presiden Prabowo Subianto bersama lembaga tinggi lainya secara sah dan resmi telah menyematkan status Pahlawan Nasional kepada para tokoh pendahulu kita.
Diantara nama- nama yang diberikan gelar Pahlawan Nasional itu, ada yang memantik perhatian publik. Boleh jadi karena sisi kontroversialnya atau karena emosional. Keterbatasan pemahaman literasi publik dalam melihat konteks perilaku para tokoh tersebut pun sangat mungkin berpengaruh.
Maka Redaksi astakom.com pada edisi Lputan Khusus kali ini, mencoba mengurai agak detail atas rekam jejak dan fakta baik apa saja yang melekat_ sisi bijak dari ide gagasan dan perilaku beberapa tokoh yang baru saja disematkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah. Mari kita simak
Pahlawan Nasional Syaikhona Muhammad Kholil
Beliau adalah Ulama Kharismatik yang lahir sejak masa Pra Kemerdekaan. Syaikhona Muhammad Kholil atau jamak disapa Syaikh Kholil Bangkalan. Beliau lahir pada 11 Jumadil Akhir 1235 H / 27 Januari 1820 M dan wafat pada 29 Ramadhan 1343 H/ 1925 M.
Bidang Ilmu Keagamaan Islam, Syaikhona Muhammad Kholil tersohor mengajarkan Ilmu tata bahasa Arab Nahwu- Shorof. Beliau juga mendalam pada bidang kajian Keilmuan Fiqih, Tafsir dan Tasawuf.
Hingga kini, Buku agama atau kitab- kitab karangan beliau banyak yang masih menjadi bahan ajar di Pondok- pondok pesantren di Indonesia. Diantaranya,Taqrirot Alfiyah Ibnu Malik (ilmu tata bahasa), Syarhu al-Kholil Ala Matn Jurumiyah (Ilmu tata bahasa) dan Al-Matn Al-Syarif (Ilmu Fiqih).
Dengan tingginya wawasan dan KeIlmuan beliau, Syaikhona Muhammad Kholil banyak mendidik santri- santri di masa itu yang kini tumbuh besar menjadi ulama tersohor Indonesia. Diantara, beliau adalah sosok dan motivator bagi KH. Hasyim Asy’ari yang mendirikan organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama. Beliau juga merupakan Guru agama bagi pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.
Dengan banyaknya ulama- ulama besar yang dilahirkan, maka wajar jika Maha Guru KH. Syaikhona Muhammad Kholil juga disebut sebagai bapak Pesantren. Hingga kini tiba momentum bagi Presiden Prabowo, menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ulama Kharismatik itu. Bahkan berkat pergaulan KeIlmuan yang luas saat itu, Syaikhona Muhammad Kholil juga menjadi pembuka jalan bagi banyak santri- santri Indonesia untuk bisa belajar agama kepada ulama- ulama di Makkah dan Madinah.
***
Pahlawan Nasional Jenderal HM. Soeharto
Pada penelusuran beberapa sumber, Publik kebanyakan mengenal nama HM. Soeharto sebagai Presiden RI ke-2 dengan latar belakang Jenderal TNI. Menarik juga untuk dikupas sisi lain dari latar belakang sosok yang lekat dengan sebutan Bapak Pembangunan Indonesia ini.
Soeharto kecil adalah sosok anak biasa yang lahir dari keluarga yang biasa alias sederhana. Soeharto lahir dari keluarga Petani pada tanggal 8 Juni 1921, di Dusun Kemusuk, Argomulyo Bantul Provinsi Yogyakarta. Meski lahir di Landmark wilayah yang sarat dengan praktik Monarki: Yogyakarta (Sistem kedaerahan yang dipimpin oleh Raja), justru Soeharto dan keluarganya bukan berasal dari kalangan tersebut.
Kesungguhan belajar dan latihan di kedinasan Tentara masa itulah yang justru meningkat karirnya di dunia militer cemerlang hingga memimpin Grup Kostrad pada 1961.
Selama- masa karirnya sebelum terpilih menjadi Presiden RI ke-2, HM. Soeharto banyak terlibat pada operasi- operasi kritis- strategis. Kenapa penulis menyebutnya dengan operasi kritis? bukan operasi penting?, mari kita simak kisahnya.
Sekitar 1-4 Tahun setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia di Tahun 1945. Tepatnya antara tahun 1946-1949 Yogyakarta ketika itu sempat menjadi Ibukota sementara Republik Indonesia sekaligus menjadi pusat konsolidasi terakhir para pemimpin Republik yang tersisa.
Seolah ingin mengabarkan Kemerdekaan Indonesia di panggung dunia Internasional masa itu, maka menjadi penting bagi para penjajah sekutu (Belanda- Inggris) untuk menaklukan Yogyakarta dengan mobilisasi konsentrasi kekuatan militer di Surabaya dan Yogyakarta.
Singkatnya, tepat pada 1 Maret 1949 Letkol Soeharto bersama 4 Perwira operasi lainya saat itu mendapat tugas untuk melakukan serbuan gerilya ke Yogyakarta sekaligus mengambil alih Kota itu dari pendudukan agresi 2 penjajah Belanda dan sekutunya.
Alhasil dalam waktu 6 Jam, sejarah mencatat sejak pukul 06.00 hingga pukul 12.00 Wib, taktik gerilya Soeharto bersama pasukanya berhasil mengambil alih kembali Kota Yogyakarta.
Peristiwa ini kemudian dikenal dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Pertempuran awal Maret itu seketika membuka mata Internasional bahwa Pemerintahan Republik Indonesia masih eksis, pergerakan dan perlawan pejuang bersama tokoh- tokoh nasional lainya pun masih berjalan hingga memaksa negara- negara Kolonial saat itu masuk ke meja perundingan dan menghasilkan keputusan pengakuan Indonesia di forum Internasional.
***
Pahlawan Nasional Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Pada sebuah siaran Talkshow Tv swasta Nasional, Presiden RI ke-3 BJ. Habibie sempat curhat tentang hubungannya dengan sang mentor Presiden Soeharto. Dengan ekspresi sedih, dengan pengulangan tutur kata yang agak tertahan, BJ. Habibie meminta, bahkan merayu agar Presiden Soeharto mau menemuinya. Presiden Soeharto menolak, namun tetap memotivasi mendoakan dan memotivasi ‘sang murid’ BJ. Habibie, “Saya mendoakan, semoga Allah menjaga dan melindungi kamu dalam menjalankan tugas sebagai Presiden”, Soeharto lantap menutup saluran telepon, sementara BJ. Habibie sang murid tertegun, hingga air matanya menetes.
Lain cerita dengan pengalaman Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Ketika itu, tidak sampai setahun sejak dilantik menjadi Presiden pada 20 Oktober 1999. Pada 8 Maret Tahun 2000, publik terhenyak dengan diterimanya Gus Dur di kediaman Soeharto Jl. Cendana No.8, RT.2/RW.1, Gondangdia, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10350.
Pada dokumentasi tayangan video yang masih beredar hingga sekarang, terlihat Presiden RI ke-2 Soeharto beserta keluarga sumringah menyambut hangat kedatangan Presiden Abdurrahman Wahid, lengkap dengan pengawalan protokoler istana.
Moment tersebut seketika menepis pandangan publik tentang ‘egoisme’ Soeharto dan keluarganya. Bahkan bagi kalangan elit masa itu, Sikap Soeharto yang ramah menyambut Gusdur seketika mengaburkan kesan tentang pribadi Soeharto yang dianggap pendendam. Bagaimana tidak, tercatat dalam sejarah pergolakan Nahdlatul Ulama dan kekuasaan, bahwa Presiden Soeharto pernah dikabarkan menjegal karir Gusdur agar tidak terpilih kembali dalam Kongres Muktamar PBNU Cipasung, Tahun 1994.

Momen pertemuan kembali Gus Dur dengan Soeharto pun kembali terulang di Tahun 2027. Tepatnya 13 Oktober 2007, Tokoh legend Nahdlatul Ulama itu menyambangi sang Penguasa Orde Baru Soeharto. Hingga wajar jika pada edisi Lipsus kali ini, terlepas dari kekurangan dan segala kontroversinya, penulis menasbihkan Gus Dur dan Soeharto memenuhi aspek wajar untuk dipilih menjadi Pahlawan Nasional. Kedua sosok itu tidak hanya fenomenal, namun menjadi cermin silaturhami kebangsaaan klasik untuk kita teladani dalam merapat NKRI tanpa kebencian dan pecah belah.
***
Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur, sosoknya bagi kalangan Nahdliyin dan kaum intelektual aliran Pluralisme dunia laksana pohon besar, jauh sebelum menjadi Presiden RI ke-4, akar ide dan buah pikirnya seperti menghujam ke dalam pikiran- pikiran publik. Banyak buah pikir Gus Dur yang seolah menjadi dahan- dahan pohon yang menjalar secara tak sadar mampu merubah pikiran dan perilaku para pengikut pikiranya.
Hingga pada titik kritis di akhir jabatannya tahun 2002, Gusdur memilih jalan damai ketimbang harus melakukan mobilisasi pendukung yang bisa saja ketika itu berdampak pada konfrontasi pertumpahan darah. Ketika itu, publik berdecak kagum pada keputusan Gus Dur ‘yang mengalah’ dari fitnah- fitnah yang menjatuhkan, hingga publik akan selalu teringat pesanmu, “Tak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian,” begitu dawuhnya.
Sahabat generasi Z dan milenial !
Bagi anda yang belum tahu banyak tentang Gus Dur, dia bukan sekedar sosok dari cucu pendiri ormas terbesar dunia, Nahdlatul Ulama. Gus Dur bukan sekedar sosok politisi ulung pendiri Partai Kebangkitan Bangsa, dan Gus Dur bukan sekedar pas foto yang ditempel di ruang- ruang kelas sekolahan hingga ruang- ruang Instansi pemerintahan karena jabatannya sebagai Presiden RI KE-4.
Lebih dari itu, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga sosok Presiden RI ke-4, tidak hanya mengemban tugas berat untuk stabilitas negara ketika masa transisi Reformasi.
Gusdur, dimasa hidupnya laksana gudang literasi intelektual bagi banyak persoalan keumatan, pikiranya adalah pengetahuan humaniora dan perilaku spiritualitasnya seakan tak pernah habis dikaji.
Publik mungkin sepaham, ada banyak tokoh hebat di negeri ini yang sudah berpulang ke pangkuan sang pencipta, namun buah pikir dari sosok Gus Dur, kata-katanya hingga perilaku ‘nyelenehnya’ terus dikutip dan diurai publik hingga sekarang. Seperti Gus Dur yang terus dirindukan.
***
Stop bicara puja puji Gus Dur!
Sudahi dulu kita puja puji Gus Dur. Dan mari kita bicara fakta. Dan mari lihat jejak inspirasi apa yang sudah dilakukan Gus Dur dalam merawat keberlangsungan Indonesia hingga saat ini.
Sebagai Presiden dengan latar belakang santri, Gus Dur dikenal sangat pluralis, demokratis.. Salah satu warisan Gus Dur yang paling dikenang adalah perjuangannya dalam meningkatkan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Hal itu tergambar dalam kebijakan monumental, yakni pengakuan Tahun Baru Imlek bagi etnis Tionghoa sebagai hari perayaan yang dapat dirayakan secara bebas.
Sebelumnya, di masa Orde Baru, perayaan Imlek dibatasi oleh Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 Tahun 1967. Namun, saat Gus Dur menjabat Presiden, ia mencabut peraturan tersebut dan menggantinya dengan Keputusan Presiden (Keppres) No. 6 Tahun 2000. Keppres Presiden RI ke-4 itu lantas memberikan kebebasan penuh kepada masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek. Sekaligus menetapkan Imlek sebagai hari libur fakultatif, hingga kemudian secara resmi dijadikan hari libur nasional pada 2003 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
Selain itu, Masa Pemerintahan Gus Dur dikenal dengan hubungan kerja sama bilateral Indonesia dengan Rusia. Hubungan bilateral Indonesia dengan Rusia ditandai dengan pemulihan dan penguatan hubungan setelah periode sebelumnya sempat merenggang, dengan fokus pada peningkatan kerjasama di berbagai bidang seperti ekonomi, budaya, dan pertahanan. Selain kunjungan intensif antara pemimpin kedua negara, era Gus Dur juga melihat peningkatan kerjasama di bidang militer dengan potensi pembelian alutsista, serta membangun kembali hubungan harmonis dengan Rusia yang memang sejarah tua Indonesia sejak pasca Kemerdekaan.
Meski masa jabatannya singkat, warisan ide dan pemikiran Gus Dur tetap hidup hingga kini. Ia dikenang sebagai “Bapak Pluralisme Indonesia”, sosok yang menekankan pentingnya kemanusiaan di atas sekat-sekat identitas.
Titik Sambung Strategi Diplomasi Gus Dur dan Prabowo
Kecepatan langkah dan pemikiran Presiden Abdurrahman Wahid ketika itu sepertinya memang belum siap diterima publik. Saat masih menjabat Presiden, Gus Dur juga pernah mengunjungi Israel pada tahun 1994 atas undangan resmi dari kantor kepresidenan Israel.
Kunjungan tersebut dinilai kontroversial dan memicu kritik dalam negeri, sebab Gus Dur merekomendasikan agar Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tujuannya adalah untuk mendorong perdamaian antara Israel dan Palestina dengan memungkinkan Indonesia berperan sebagai penengah yang dipercaya oleh kedua belah pihak.
Ini mirip dengan strategi yang baru- baru ini dijalankan Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto. Dalam pidato di sidang umum PBB (23/09/2025), pasti publik masih teringat apresiasi dan decak kagum para pemimpin dunia dalam merespon ide Presiden Prabowo untuk perdamaian Israel- Palestina. Ya, Presiden Prabowo mendengungkan gagasan ‘two state solution’ sebagai solusi perdamaian konflik Israel- Palestina. Pun rakyat kedua negara yang sudah berpuluh tahun berkonflik bisa bernafas lega. Saling blokade dan saling serang antar keduanya semakin berkurang, hingga terbuka pintu-pintu bantuan untuk warga Gaza.(aSP)
Terimakasih para Pemimpin negeri, atas teladan yang tak pernah henti!
Penulis dan Editor: AR. S Purba
Foto & Grafis: Jardi- Joeyhan
Reporter: Alfian Tegar
Kontributor: Dinno Brasco



